9. Membaca lebih awal
5. Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa).
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada anggota gerak (tulang, sendi, otot). Pengertian anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya. Dari segi fungsi fisik, tunadaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatanya terganggu sehingga mengalami kelainan di dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
a. Jari tangan kaku dan tidak dapat mengenggam.
b. Ada bagian anggota gerak yang tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
c. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur, bergetar)
d. Terdapat cacat pada anggota gerak
e. Anggota gerak layu, kaku, lemah/lumpuh.
Karakteristik Tunadaksa:
(1) Karakteristik akademik, penyandang tuna daksa yang mengalami kelainan pada sistem otot dan rangka adalah normal sehingga dapat mengikuti pelajaran sama dengan individu normal, sedangkan penyandang tunadaksa yang mengalami kelainan pada sistem cerebral, tingkat kecerdasannya berentang mulai dari tingkat idiocy sampai dengan gifted.
(2) Karakteristik Sosial atau emosional, karakteristik sosial atau emosional penyandang tunadaksa bermula dari konsep diri individu yang merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban orang lain yang mengakibatkan mereka malas belajar, bermain dan membentuk perilaku yang salah. Kehadiran individu cacat yang tidak diterima oleh orang tua dan disingkirkan dari masyarakat akan merusak perkembangan pribadi seseorang. Kegiatan jasmani yang tidak dapat dilakukan oleh penyandang tunadaksa dapat mengakibatkan timbulnya masalah emosi, seperti mudah tersinggung, mudah marah, rendah diri, kurang dapat bergaul, pemalu, menyendiri, dan frustrasi. (3) Karakteristik Fisik atau Kesehatan,
karakteristik fisik atau kesehatan penyandang tunadaksa biasanya selain mengalami cacat tubuh adalah kecenderungan mengalami gangguan lain, seperti sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, dan gangguan bicara. Kelainan tambahan itu banyak
ditemukan pada penyandang tuna daksa sistem cerebral.
6. Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku).
Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki ciri-ciri, diantaranya:
a. Cenderung membangkang.
b. Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.
c. Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
d. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.
e. Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah, sering bolos, jarang masuk sekolah.
Karakteristik Tunalaras:
Menurut Wardani (2007: 30) karakteristik anak tunalaras ada tiga
yaitu:
1) Karakteristik akademik
maka dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Pencapaian hasil belajar yang berada jauh di bawah rata-rata
b) Seringkali dikirim ke kepala sekolah untuk tindakan indisipliner.
c) Seringkali tidak naik kelas atau bahkan dikeluarkan dari
sekolahnya.
d) Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan, dengan alasan sakit,
perlu istirahat.
e) Seringkali membolos sekolah
f) Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat
panggilan dari petugas kesehatan atau bagian presensi.
g) Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi.
h) Lebih sering menjalani masa percobaan dari pihak yang
berwenang.
i) Lebih sering melakukan pelanggaran hokum dan pelanggaran lalu
lintas.
j) Lebih sering dikirim ke klini bimbingan.
2) Karakteristik sosial/ emosional
a) Karakteristik sosial
(1) Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan
ciri-ciri: perilaku tidak diterima masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga.
(2) Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak
mengikuti aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap
membangkang atau menentang, dan tidak dapat bekerjasama.
(3) Melakukan kejahatan remaja, seperti melanggar hukum
3) Karakteristik emosional
(1) Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak,
seperti tekanan batin dan rasa cemas.
(2) Adanya rasa gelisah seperti, rasa malu, rendah diri, ketakutan,
dan sangat sensitive atau perasa.
3) Karakteristik fisik/ kesehatan
Karakteristik kesehatan/ fisik anak tunalaras ditandai dengan adanya
gangguan makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan. Seringkali
anak merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan jasmaninya, ia
mudah mendapat kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatannya,
merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud kelainan fisik
seperti, gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol dan
jorok.
7. Anak Dengan Kesulitan Belajar Spesifik (specific learning disability)
Menurut Federal law atau hukum federal (IDEA, 1997): Istilah “kesulitan belajar spesifik” menerangkan semua anak yang mengalami gangguan pada satu atau lebih proses psikologis dasar yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dimana gangguan yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Menurut Association for Children and Adult with Learning Disability (ACALD) “Kesulitan belajar spesifik” adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari faktor neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi dan /atau kemampuan verbal dan/atau non verbal.
Karakteristik:
1. Memiliki potensi dan atau fungsi kecerdasan minimal pada tingkat rata-rata. Hal ini dibuktikan melalui tes intelegensi (skor IQ).
2. Memiliki prestasi akademis yang jelek dan tidak sesuai dengan hasil tes intelegensi, usia, dan tingkat pendidikannya walau sudah mendapat pembelajaran yang optimal.
3. Mengalami kesulitan dalam memproses informasi, seperti membedakan bentuk yang mirip, menirukan gerakan, membedakan kanan dan kiri, serta berbagai kesulitan lainnya.
8. Anak Lamban Belajar (slow learner)
Anak lamban belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah tingkat konsentrasinya yang rendah, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
Karakteristik:
- Berfungsinya kemampuan kognisi, namun di bawah rata-rata. Kondisi ini membuatnya mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir.
- Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6
- Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
- Pernah tidak naik kelas
- Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman seusianya
- Cenderung kesulitan dalam mengikuti petunjuk yang memiliki banyak langkah / kompleks
- Memiliki self image yang buruk (pemalu, pendiam, kurang percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial) sehingga mengalami kesulitan dalam berteman
- Memiliki daya ingat yang memadai, namun lambat dalam mengingat
- Menguasai suatu keterampilan dengan lambat, dan untuk beberapa kemampuan bahkan tidak dapat dikuasai
- Terbatasnya kemampuan koordinasi (seperti olahraga, menggunakan alat tulis atau mengenakan pakaian)
9. Anak Autis
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. Gejala-gejala anak autis tampak sejak lahir, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Karakteristik Autis:
- Marah, menangis, atau tertawa tanpa alasan yang jelas
- Hanya menyukai atau mengonsumsi makanan tertentu
- Melakukan tindakan atau gerakan tertentu dilakukan secara berulang, seperti mengayun tangan atau memutar-mutarkan badan
- Hanya menyukai objek atau topik tertentu
- Melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri, seperti menggigit tangan dengan kencang atau membenturkan kepala ke dinding
- Memiliki bahasa atau gerakan tubuh yang cenderung kaku
- Sulit tidur
-----------------------
Referensi:
Aisya. 2018. Menjadi Berbeda Itu Tak Mudah. KelanaAisya. Diakses dari:
https://kelanaaisya.wordpress.com/
Amani, M. 2014. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Makalah Pendidikan Inklusif.
Foraldy, T. 2019. Ciri Ciri Anak Mengidap Gangguan Pendengaran. HelloSehat. Diakses dari: https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyebab-dan-gejala-gangguan-pendengaran-pada-anak/
Pratiwi, I. 2014. Resiliensi Pada Penyandang Tunadaksa Non Bawaan. Jurnal SPIRIT. Vol. 5. No. 1
Riady, M. 2020. Anak Tunagrahita. KajianPustaka. Diakses dari:
https://www.kajianpustaka.com/2020/07/anak-tunagrahita.html?m=1
Sulistyorini, S. 2019. Implementasi Layanan Inklusi ABK Pada Satuan Pendidikan Pada Anak Usia Dini. Jurnal UII. Vol.4. No.1. Hlm. 53-66
Willy, Tjin. 2019. Miopi (Rabun Jauh). Alodokter. Diakses dari:
https://www.alodokter.com/rabun-jauh
π«π«π«π«π«
Sekian penjelasan tentang klasifikasi dan karakteristik ABK dari berbagai sumber terpercaya. Kritik dan saran membangun saya harapkan dari para pembaca. Semoga bermanfaat. Terimakasih π
Author:
Hani Maria, Mahasiswi Bimbingan Konseling Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Angkatan 2018.
"Mencoba bisa! Berlatih Melatih! Terbiasa, Luar biasa! Waktu itu seperti anak panah, begitu cepat melesat dalam setiap kedipan mata" ~Hani
Instagram: @honeyy_mry
Komentar
Posting Komentar