MENJADI BERBEDA ITU ISTIMEWA (INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS)

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS

Assalamualaikum Warahmatullah Wb 
Hollaa Semuanya, Ogenkidesuka? Apa kabar? Semoga baik dan selalu di rahmati oleh Allah Swt. Sebelum membaca mari kita panjatkan doa sesuai kepercayaan masing masing... alfatihah... Aamiin.
Selamat membaca, semoga bermanfaat ✌
πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki arti yang lebih luas dibandingkan pengertian Anak Luar Biasa. ABK adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh karena itu memerlukan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu anak berkebutuhan khusus permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu, dan anak berkebutuhan khusus temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan dalam perkembangan dan belajar karena kondisi dan situasi lingkungan. Anak berkebutuhan khusus temporer apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.

πŸ’«KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUSπŸ’«

*INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS TEMPORER*
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang yang mengalami gangguan emosi karena trauma akibat diperkosa sehingga anak ini tidak dapat belajar. Pengalaman traumatis seperti itu bersifat sementara tetapi apabila anak ini tidak memperoleh intervensi yang tepat boleh jadi akan menjadi permanen.

Ada juga yang terlalu lama terpapar gadget sehingga anak mudah marah dan susah 
untuk berkonsentrasi, speech delay, social barrier. Jika o=tidak ada intervensi yang daitempuh maka anak akan menderita penyakit ini secara permanen. Dalam hal bahasa, ada anak yang memiliki kehidupan dua bahasa antara pada saat di rumah dan di sekolah. Hal ini dapat menyebabkan munculnya kesulitan dalam belajar membaca dalam bahasa Indonesia. Anak seperti ini dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus sementara (temporer). 
Oleh karena itu ia memerlukan layanan pendidikan yang disesuikan. Apabila hambatan belajar membaca seperti itu tidak mendapatkan intervensi yang tepat boleh jadi anak ini akan menjadi anak berkebutuhan khusus permanen. Anak akan sulit memahami dan membedakan 

Karakteristik ABK Temporer:
1. Layaknya individu yang mengalami trauma.
2. Lambat belajar karena perbedaan latar belakang suku, agama, bahasa, adat atau hal lainnya.
3. Intinya yang bersifat sementara

Contoh Ilustrasi
"Anak baru masuk kelas I Sekolah Dasar yang mengalami kehidupan dua bahasa antara pada saat di rumah dan di sekolah. Hal ini dapat menyebabkan munculnya kesulitan dalam belajar membaca dalam bahasa Indonesia. Anak seperti ini dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus sementara (temporer). Oleh karena itu ia memerlukan layanan pendidikan yang disesuikan. Apabila hambatan belajar membaca seperti itu tidak mendapatkan intervensi yang tepat boleh jadi anak ini akan menjadi anak berkebutuhan khusus permanen. Anak akan sulit memahami dan membedakan bahasa yang ia pelajari. Ini akan menyebabkan anak berkesulitan dalam berbahasa dengan sifat permanen".

*INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS PERMANEN*
Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen adalah anak-anak yang
mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan akibat langsung dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, gannguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gangguan gerak (motorik), gangguan iteraksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial dan tingkah laku. Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanent sama artinya dengan anak penyandang kecacatan.

Klasifikasi dan Karakteristik Individu berkebutuhan khusus permanen:

1.      Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Secara umum tunanetra dikelompokkan menjadi buta dan kurang lihat. Sebagian ahli mengelompokkannya menjadi kurang lihat (low vision), buta (blind), dan buta total (totally blind). Anak yang memiliki kerusakan ringan pada penglihatannya (seperti myopia dan hypermetropia ringan) masih dapat dikoreksi dengan bantuan kacamata dan bisa mengikuti pendidikan seperti anak lainnya, sehingga tidak dikelompokkan pada tunanetra.
Ketunanetraan dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 hal, yaitu tingkat ketajaman penglihatan,saat terjadinya ketunanetraan serta adaptasi pendidikannya.

a.       Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
1)        Tunanetra dengan ketajaman
2)        Tunanetra yang memiliki visus 0.

b.      Berdasarkan Saat Terjadinya Ketunanetraan
1)      Tunanetra sebelum dan sejak lahir
Kelompok ini masih belum mempunyai konsep penglihatan.
2)        Tunanetra batita (di bawah 3 tahun)
3)        Tunanetra balita (3-5 tahun)
4)      Tunanetra pada usia sekolah (6-12 tahun)
5)      Tunanetra remaja (13-19 tahun)
6)      Tunanetra dewasa (19 tahun ke atas)

c.       Berdasarkan Adaptasi Pendidikan
1)   Ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate visual disability)
2)   Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability)
3)   Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability)

Karakteristik Tunanetra:
  • Sakit kepala.
  • Mata lelah karena mata bekerja secara berlebihan.
  • Sering mengedipkan mata.
  • Sering memicingkan mata saat melihat benda-benda jauh.
  • Sering mengucek mata.
  • Terlihat tidak menyadari keberadaan objek yang jauh.

2. Anak dengan Gangguan Pendengaran dan / Wicara (Tunarungu)
a.    Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran
1)   Tunarungu ringan (mild hearing loss) anatara 27-40 dB.
2)      Tunarungu sedang (moderate hearing loss) anatara 41-55 dB.
3)      Tunarungu agak berat (moderately severe hearing loss) antara 56-70dB.
4)      Tunarungu berat (severe hearing loss) antara 71-90dB.
5)      Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)

b.    Berdasarkan saat terjadinya
1)      Ketunarunguan prabahasa (prelingual deafness)
2)      Ketunarunguan pascabahasa (post lingual deafness)

c.    Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis
1)      Tunarungu tipe konduktif
2)      Tunarungu tipe sensorineural
3)      Tunarungu tipe campuran

d.   Berdasarkan etiologi atau asal usulnya
1)      Tunarungu endogen
2)      Tunarungu eksogen

 Karakteristik Tunarungu
  • Tidak terkejut mendengar suara yang keras.
  • Tidak menoleh untuk merespon ke arah sumber suara (pada bayi usia lebih dari 6 bulan)
  • Tidak mengucapkan kata apa pun, seperti “dada” atau “mama”, pada usia 1 tahun.
  • Tidak menoleh ketika dipanggil namanya, namun mengalihkan pandangannya ketika bayi melihat Anda.

3. Anak dengan Kelainan Kecerdasan di bawah Rata-rata (Tunagrahita)
Anak dengan kelainan kecerdasan di bawah rata – rata sering disebut dengan istilah tunagrahita. Klasifikasi tunagrahita yang dikemukakan oleh AAMD (Halaman, 1982:43) sebagai berikut:
a.    Mild mental retardation (tunagrahita IQ-nya 70 – 55 ringan)
b.    Moderate mental retardation (tunagrahita IQ-nya 55 – 40 sedang)
c.    Severe mental retardation (tunagrahita IQ-nya 40 – 25 berat)
d.   Profound mental retardation (tunagrahita IQ-nya 25 ke bawah) (sangat berat).

Karakteristik Tunagrahita
  • Duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari anak-anak lain seusianya
  • Mengalami kesulitan berbicara
  • Memiliki kesulitan memahami aturan sosial
  • Memiliki kesulitan dalam mengendalikan sikap atau gerakannya
  • Sulit memecahkan masalah
  • Sulit berpikir secara logis
Ilustrasi:

anak usia 10 tahun dengan kondisi tunagrahita biasanya belum dapat berbicara atau menulis. Padahal, pada usia tersebut seharusnya anak sudah mampu menulis dan berbicara dengan lancar. Anak dengan kondisi ini umumnya juga lebih lambat untuk belajar keterampilan lainnya. Seperti sulit untuk berpakaian sendiri atau belum memahami bagaimana sebaiknya bereaksi ketika melakukan interaksi dengan orang lain. Meskipun sering ditandai dengan kondisi perkembangan belajar yang lambat, bukan berarti anak dengan tunagrahita tidak bisa belajar.


4. Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa (gifted and talented)
a.    Cerdas istimewa (gifted IQ 140-179 and genius IQ 180 ke atasanak dengan IQ di atas rata-rata.
b.    Bakat istimewa (talented) anak dengan bakat khusus (akademik atau non akademik.

Karakteristik Gifted and talented
1. Mengumpulkan Informasi dengan Detail dan jelas
2. Rasa Ketertarikan yang Luas dan Dalam Pada Banyak Bidang
3. Kemampuan Mendengarkan Orang Lain
4. Berbakat di Bidang Seni
5. Memperlihatkan Konsentrasi yang Sungguh-sungguh
6. Senang Menjadi Pemimpin
7. Punya Kosakata yang Maju
8. Sangat Peduli Orang Lain dan Lingkungannya
9. Membaca lebih awal

5. Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa).
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada anggota gerak (tulang, sendi, otot). Pengertian anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya. Dari segi fungsi fisik, tunadaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatanya terganggu sehingga mengalami kelainan di dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
a.       Jari tangan kaku dan tidak dapat mengenggam.
b.      Ada bagian anggota gerak yang tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
c.       Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur, bergetar)
d.      Terdapat cacat pada anggota gerak
e.       Anggota gerak layu, kaku, lemah/lumpuh.

Karakteristik Tunadaksa:
(1) Karakteristik akademik, penyandang tuna daksa yang mengalami kelainan pada  sistem otot dan rangka adalah normal sehingga dapat mengikuti pelajaran sama dengan individu normal, sedangkan penyandang tunadaksa yang mengalami kelainan pada sistem cerebral, tingkat kecerdasannya berentang mulai dari tingkat idiocy sampai dengan gifted. 
(2) Karakteristik Sosial atau emosional, karakteristik sosial atau emosional penyandang tunadaksa bermula dari konsep diri individu yang merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban orang lain yang mengakibatkan mereka malas belajar, bermain dan membentuk perilaku yang salah. Kehadiran individu cacat yang tidak diterima oleh orang tua dan disingkirkan dari masyarakat akan merusak perkembangan pribadi seseorang. Kegiatan jasmani yang tidak dapat dilakukan oleh penyandang tunadaksa dapat mengakibatkan timbulnya masalah emosi, seperti mudah tersinggung, mudah marah, rendah diri, kurang dapat bergaul, pemalu, menyendiri, dan frustrasi. (3) Karakteristik Fisik atau Kesehatan, 
karakteristik fisik atau kesehatan penyandang tunadaksa biasanya selain mengalami cacat tubuh adalah kecenderungan mengalami gangguan lain, seperti sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, dan gangguan bicara. Kelainan tambahan itu banyak 
ditemukan pada penyandang tuna daksa sistem cerebral.

6. Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku).
Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki ciri-ciri, diantaranya:
a.       Cenderung membangkang.
b.      Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.
c.       Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
d.      Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.
e.       Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendahsering bolos, jarang masuk sekolah.

Karakteristik Tunalaras:
Menurut Wardani (2007: 30) karakteristik anak tunalaras ada tiga 
yaitu:
1) Karakteristik akademik 
maka dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut: 
a) Pencapaian hasil belajar yang berada jauh di bawah rata-rata 
b) Seringkali dikirim ke kepala sekolah untuk tindakan indisipliner. 
c) Seringkali tidak naik kelas atau bahkan dikeluarkan dari 
sekolahnya. 
d) Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan, dengan alasan sakit, 
perlu istirahat. 
e) Seringkali membolos sekolah 
f) Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat 
panggilan dari petugas kesehatan atau bagian presensi. 
g) Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi. 
h) Lebih sering menjalani masa percobaan dari pihak yang 
berwenang. 
i) Lebih sering melakukan pelanggaran hokum dan pelanggaran lalu 
lintas. 
j) Lebih sering dikirim ke klini bimbingan.

2) Karakteristik sosial/ emosional 
a) Karakteristik sosial 
(1) Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan 
ciri-ciri: perilaku tidak diterima masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga. 
(2) Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak 
mengikuti aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap 
membangkang atau menentang, dan tidak dapat bekerjasama. 
(3) Melakukan kejahatan remaja, seperti melanggar hukum

3) Karakteristik emosional 
(1) Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, 
seperti tekanan batin dan rasa cemas. 
(2) Adanya rasa gelisah seperti, rasa malu, rendah diri, ketakutan, 
dan sangat sensitive atau perasa. 
3) Karakteristik fisik/ kesehatan 
Karakteristik kesehatan/ fisik anak tunalaras ditandai dengan adanya 
gangguan makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan. Seringkali 
anak merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan jasmaninya, ia 
mudah mendapat kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatannya, 
merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud kelainan fisik 
seperti, gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol dan 
jorok.

7. Anak Dengan Kesulitan Belajar Spesifik (specific learning disability)
Menurut Federal law atau hukum federal (IDEA, 1997): Istilah “kesulitan belajar spesifik” menerangkan semua anak yang mengalami gangguan pada satu atau lebih proses psikologis dasar yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dimana gangguan yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Menurut Association for Children and Adult with Learning Disability (ACALD) Kesulitan belajar spesifik” adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari faktor neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi dan /atau kemampuan verbal dan/atau non verbal. 

Karakteristik:

1. Memiliki potensi dan atau fungsi kecerdasan minimal pada tingkat rata-rata. Hal ini dibuktikan melalui tes intelegensi (skor IQ).

2. Memiliki prestasi akademis yang jelek dan tidak sesuai dengan hasil tes intelegensi, usia, dan tingkat pendidikannya walau sudah mendapat pembelajaran yang optimal.

3. Mengalami kesulitan dalam memproses informasi, seperti membedakan bentuk yang mirip, menirukan gerakan, membedakan kanan dan kiri, serta berbagai kesulitan lainnya.

8. Anak Lamban Belajar (slow learner)
Anak lamban belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan untuk belajar dan  menyesuaikan diri, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah tingkat konsentrasinya yang rendah, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.

Karakteristik:
  1. Berfungsinya kemampuan kognisi, namun di bawah rata-rata. Kondisi ini membuatnya mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir.
  2. Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6
  3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
  4. Pernah tidak naik kelas
  5. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman seusianya
  6. Cenderung kesulitan dalam mengikuti petunjuk yang memiliki banyak langkah / kompleks
  7. Memiliki self image yang buruk (pemalu, pendiam, kurang percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial) sehingga mengalami kesulitan dalam berteman
  8. Memiliki daya ingat yang memadai, namun lambat dalam mengingat
  9. Menguasai suatu keterampilan dengan lambat, dan untuk beberapa kemampuan bahkan tidak dapat dikuasai
  10. Terbatasnya kemampuan koordinasi (seperti olahraga, menggunakan alat tulis atau mengenakan pakaian)
9. Anak Autis
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. Gejala-gejala anak autis tampak sejak lahir, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.

Karakteristik Autis:
  • Marah, menangis, atau tertawa tanpa alasan yang jelas
  • Hanya menyukai atau mengonsumsi makanan tertentu
  • Melakukan tindakan atau gerakan tertentu dilakukan secara berulang, seperti mengayun tangan atau memutar-mutarkan badan
  • Hanya menyukai objek atau topik tertentu
  • Melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri, seperti menggigit tangan dengan kencang atau membenturkan kepala ke dinding
  • Memiliki bahasa atau gerakan tubuh yang cenderung kaku
  • Sulit tidur
-----------------------
Referensi:
Aisya. 2018. Menjadi Berbeda Itu Tak Mudah. KelanaAisya. Diakses dari:
https://kelanaaisya.wordpress.com/

Amani, M. 2014. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Makalah Pendidikan Inklusif.

Foraldy, T. 2019. Ciri Ciri Anak Mengidap Gangguan Pendengaran. HelloSehat. Diakses dari: https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyebab-dan-gejala-gangguan-pendengaran-pada-anak/

Pratiwi, I. 2014. Resiliensi Pada Penyandang Tunadaksa Non Bawaan. Jurnal SPIRIT. Vol. 5. No. 1

Riady, M. 2020. Anak Tunagrahita. KajianPustaka. Diakses dari:
 https://www.kajianpustaka.com/2020/07/anak-tunagrahita.html?m=1

Sulistyorini, S. 2019. Implementasi Layanan Inklusi ABK Pada Satuan Pendidikan Pada Anak Usia Dini. Jurnal UII. Vol.4. No.1. Hlm. 53-66

Willy, Tjin. 2019. Miopi (Rabun Jauh). Alodokter. Diakses dari:
https://www.alodokter.com/rabun-jauh

πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«

Sekian penjelasan tentang klasifikasi dan karakteristik ABK dari berbagai sumber terpercaya. Kritik dan saran membangun saya harapkan dari para pembaca. Semoga bermanfaat. Terimakasih 😊

Author:
Hani Maria, Mahasiswi Bimbingan Konseling Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Angkatan 2018.
"Mencoba bisa! Berlatih Melatih! Terbiasa, Luar biasa! Waktu itu seperti anak panah, begitu cepat melesat dalam setiap kedipan mata" ~Hani
Instagram: @honeyy_mry

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAWFAL ALFINA SI ANAK BERBAKAT INDONESIA

STUDI KASUS TUNAGRAHITA