Pendekatan Konseling Tunanetra dan Tunarungu

Analisis Pendekatan Konseling  Untuk Tunanetra dan Tunarungu

"Jangan pernah usik kekurangan orang lain, tetapi usiklah kelebihannya jadikan motivasi untuk dirimu yang lebih bangkit... so.. perfect" ~Hani

Bismillahirrohmanirrohim πŸ’Œ
Assalamualaikum Warahmatullah Wb
Hallo teman - teman semuanya, apa kabar? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Swt Aamiin. Marhaban ya Ramadhan, minal aidzin walfaidzin jika ada salah kata mohon maaf lahir batin πŸ™πŸ˜Š
Sebelum membaca tulisan inti, mari kita membaca doa sesuai kepercayaan atau keyakinan masing masing ...... Aamiin. 
Postingan ini merupakan hasil analisi dari berbagai sumber sebagai bentuk tugas terstruktur mata kuliah "Konseling Berkebutuhan Khusus" yang diampu oleh bapak Peni Ramanda S.Pd, M.Pd.

πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«

 ANALISIS
A. Pendekatan Konseling Eksistensial Untuk Tunarungu
Ketetapan dalam Undang - undang No. 20 Tahun 2003 ini sangat berarti bagi penyandang kelainan/cacat karena memberi landasan yang kuat bahwa penyandang kelainan perlu memperoleh kesempatan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada peserta didik lainnya.

Konseling Eksistensial dapat dipandang sebagai suatu pendekatan intelektual pada praktek terapi konseling atau suatu filsafat yang digunakan konselor untuk dasar praktek. Dengan demikian, konseling eksistensial tidak model konseling yang Corey, 1996:170). Pendekatan Eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model terapi behaviorisme. Konseling eksistensial manusia yang bercorak serba ditentukan (deterministic), serba dikurangi (reductionistic), dan serba mekanis (mechanistic). Hal ini didasari asumsi bahwa manusia (kita) adalah bebas dan oleh karena itu kita bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Kita adalah penulis dan arsitek bagi kehidupan kita, oleh karenanya kita selalu lebih dari hanya sekadar korban keadaan.


Ciri-Ciri Konseling Eksistensial
Konseling eksistensial mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Dalam hal ini Arbuchle (Rubin, 1977:753) menulis:“The basic issue in the discussion of any “kind” of counseling, including existential counsling, has to do with the nature of humanity and the relationship of humans to the culture they have produced. The behavioral and deterministic view sees human as conditioned sets of behaviors, and their life and living can thus be predicted and controled, for good or evil. On the other hand, the world of the existential counselor is subjective rather than objective, and human are streams of consciousness and experiencing, and thus can not be predicted and measured and controled. ”

Dapat dikatakan bahwa para konselor eksistensial memandang klien sebagai oknum yang dinamik yang perilakunya tidak dapat diramalkan, yang hanya dapat dipahami apabila kita memasuki dan menghayati dunia subyektifnya. Dengan kata lain, bantuan hanya dapat efektif apabila klien dan konselor dapat berdialog dalam dunia subyektif yang sama.

bentuk bimbingan dan pelayanan eksistensial yakni :
1. Full Inclusion (integrasi penuh) melalui Program mentoring.
Giongreco dalam Gloria at.all (1997), mengemukakan definisi Full Inclusion adalah sebagai suatu keberadaan di mana hanya terdapat satu kesatuan sistem pendidikan formal yang meliputi semua anggota (peserta didik) secara wajar tanpa memandang perbedaan status mereka.

2. Pelaksanaan layanan dalam pengembangan kemandirian di sekolah bagi guru/konselor dapat melakukan pelayanan bimbingan melalui teman sebaya atau dengan sistem mentoring. Ini akan membantu kita dalam menangani dan memberikan layanan bagi anak tunarungu yang berada di sekolah terpadu. Kegiatan akan efektif karena mentor tinggal memantau bagaimana pelaksanaan bimbingan tersebut. Mentoring adalah suatu kegiatan hubungan manusia yang melibat-kan pemberian dorongan dan bimbingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Seorang mentor bukanlah konselor profesional, orang tua, pekerja sosial, atau teman bermain, tetapi mentor adalah seorang teman dan orang kepercayaan.



B. Pendekatan Konseling Kelompok Untuk Tunanetra
Bimbingan Konseling untuk Tuna Netra yaitu suatu perlakuan bantuan kepada anak secara kelompok dilakukan melalui pembicaraan lalu dengan cara interaksi , lalu dengan memberikan suatu nasehat gagasan yang tau arahan yang dapat memperhatikan tentang norma yang berlaku dengan mandiri. Indera pendengaran sebagai saluran yang utama penerima informasi keterbatasan atau ketidakmampuan dalam fungsi penglihatan, memungkinkan kepada anak tuna netra dapat menerima dan dapat memahami berbagai ragam informasi di sekitarnya.

Anak Tuna Netra dapat memungkinkan memperoleh layanan bimbingan dan konseling dengan memperoleh kesempatan pembahasan dan permasalahan yang dialami dirinya memalui kelompok. Masalah yang dibahas itu adalah masalah pribadi yang dapat  dialami oleh masing  dari anggota kelompok itu sendiri.

Contoh dalam strategi konseling kelompok dalam pelayanan pengajaran bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus yang Tuna Netra bisa dalam pengajaran dengan menggunakan tulisan braille , gambar timbul , benda model dan benda nyata . sedangkan dapat menggunakan media  bersuara yaitu tape recorder. Untuk membantu kepada anak Tuna Netra dalam beraktivitas di sekolah luar biasa yang tempat mereka belajar mengenai Orientasi dan mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantarannya mempelajari bagaimana cara anak Tuna Netra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan khusus anak tuna netra yang terbuat dari aluminium tersebut. (Oki Dermawan : 889)


SUMBER

Efendi, Join. 2010. Konseling Eksistensial Pada Anak Tunarungu Disekolah Luar Biasa. Makalah Konseling. Diakses Dari:
https://jofipasi.wordpress.com/2010/02/11/konseling-eksistensial-pada-anak-tunarungu-di-sekolah-luar-biasa/

Oktavia E, Zikra, dkk. 2016. Konsep Diri Penyandang Tunanetra dan Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan Konseling. Jurnal Konselor. Vol. 5. No. 4. hlm.230-237

Nevita, Feren. 2020. Strategi Pelayanan Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Tunanetra). Karya Tulis Ilmiah BK UNNU. Diakses dari:
https://www.kompasiana.com/feren41190/5fc89e2be32c47515a2571d2/strategi-pelayanan-bk-kepada-anak-berkebutuhan-khusus-tuna-netra.

πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«

Penulis:
Hani Mariah
Bimbingan Konseling Islam
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
@honeyy_mry

"Hidup itu misteri... setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing - masing. Hargailah hidupmu dan hidup orang lain sebagai bentuk penghormatanmu kepada sang maha pencipta" ~Hani









Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAWFAL ALFINA SI ANAK BERBAKAT INDONESIA

STUDI KASUS TUNAGRAHITA